eksodus
System menjual masyarakat miskin dengan meminta bantuan dana dari Jakarta, bukan barang baru. Sudah terjadi berpuluh-puluh tahun lamanya. Indikatornya,  meningkatnya angka kemiskinan di Kabupaten Belu, NTT, yang berbatasan langsung dengan negara Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), yang telah mencapai angka cukup tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Belu menyebutkan, sekitar 85 persen warga di Kabupaten Belu masih tergolong miskin. Tepatnya, ada sekitar 67.734 KK (Kepala Keluarga), atau 85 persen masuk dalam kategori miskin dari total 98.500 KK.
“Memang kita tidak bisa pungkiri lagi bahwa kepala keluarga miskin di Belu sangat besar. Saat ini jumlah KK miskin itu telah mencapai lebih dari 63 ribu KK dari 98 ribu lebih KK,” ujar salah satu staf BPS Belu yang tak mau namanya dipenakan, ketika ditemui Moral-politik.com di kediamannya, di bilangan Tulamalae,  Sabtu (15/6/) petang.
Menurutnya, langkah terbaik adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang bertugas mengurusnya membuat program untuk menekan angka kemiskinan setiap tahunnya.
“Dinas Pertanian dan Perkebunan, harus membuat target pengelolaan lahan basah pada musim kemarau disertai pencapaian hasilnya. Sedangkan Dinas Peternakan menetapkan target peningkatan populasi ternak,” tawarnya.
Jika semua punya target sendiri-sendiri, lanjutnya, pastinya keluarga miskin akan turun.
“Ada beberapa faktor yang turut menyumbang dan berpengaruh positif antara lain, musibah bencana alam yang terjadi beberapa bulan lalu, gagal panen dan juga gagal tanam sebagai pemicu tingginya angka kemiskinan,” pungkasnya.

Sumber : http://moral-politik.com